Minggu, 21 Juli 2013

Desa Karang Mulya, Kab. Tegal - IPB Goes To Field 2013


A.    Kondisi Umum Wilayah
Desa Karang Mulya adalah sebuh desa yang terletak di kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Secara umum kondisi wilayah desa Karang Mulya masih tertinggal jika di bandingkan dengan desa-desa lain di kecamatan Bojong. Tingkat pendidikan penduduk masih rendah (mayoritas penduduk adalah tamatan SD). Kondisi jalan desa berbatu dan masih dalam proses perbaikan. Hampir 90% penduduk bermata pencaharian sebagai petani, dengan mayoritas petani adalah orang tua. Sedangkan untuk anak muda desa banyak yang merantau ke luar daerah (kebanyakan merantau ke Sulawesi dan berjualan nasi goreng). Mengenai produk pertanian, yang menjadi mayoritas di desa Karang Mulya adalah bahan pangan seperti padi dan jagung dan kebanyakan untuk konsumsi sendiri. Selain itu di desa Karang Mulya koneksi internet masih sulit untuk ditemui.

B.     Pelaksanaan dan Output Kegiatan
Kegiatan yang kami lakukan selama tiga minggu pelaksanaan program IPB Goes To Field dan Mahasiswa Mengabdi Universitas Paramadina 2013 di desa Karang Mulya Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut :
a.              Melakukan survei ke para petani.
Survei disini dilakukan dengan cara berinteraksi secara langsung dan memberikan pertanyaan-pertanyaan di dalam kuesioner kepada para petani di desa Karang Mulya. Kegiatan ini dilakukan selama tiga minggu pelaksanaan program dengan cara mengunjungi dan bertanya langsung kepada para petani di sawah.
b.             Membuat peta desa Karang Mulya.
Pembuatan peta desa Karang Mulya merupakan permintaan dari bapak kepala desa Karang Mulya. Peta desa disini bukanlah peta secara lengkap melainkan sebuah peta sederhana yang menggambarkan denah desa dan di buat menggunakan aplikasi Adobe Photoshop. Proses pembuatan peta sederhana masih berlangsung dan masih dalam proses penyempurnaan.
c.              Pelatihan komputer untuk pamong desa.
Pelatihan komputer bagi pamong-pamong desa di fokuskan pada praktik penggunaan aplikasi Microsoft Word dan Microsoft Excel yang nantinya berguna bagi keperluan administrasi desa seperti surat menyurat, pendataan warga, dan lain-lain. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada pada tanggal 4, 5, dan 6 Juli 2013. Sekedar informasi, di desa Karang Mulya ada sebuah komputer, akan tetapi komputer hampir tidak pernah digunakan karena pamong desa belum menguasai cara menggunakan komputer. Karena kami hanya berempat dan hanya membawa 4 laptop, maka pelatihan komputer selama tiga hari difokuskan pada 4 pamong yang sering bertugas mengurus administrasi. Sedangkan pamong desa yang lain yang tidak kebagian memperhatikan dari sisi kanan dan kiri. Untuk pedoman kami juga membuat modul dasar mengenai tata cara penggunaan Microsoft Word dan Microsoft Excel yang disertai dengan gambar. Modul tersebut telah di print dan ditinggal di desa sehingga sewaktu-waktu bisa digunakan dan dipelajari secara otodidak oleh pamong.
d.             Pembuatan majalah dinding untuk desa.
Pembuatan majalah dinding bagi desa dimaksudkan agar segala informasi tentang desa bisa disebarluaskan secara langsung kepada masyarakat melalui media tulis. Masyarakat bisa membaca setiap informasi terbaru mengenai kegiatan desa, informasi mengenai hama, pupuk, dan lain lain. Informasi yang ditempel di majalah dinding bisa juga mengenai informasi dunia luar yang sumbernya berasal dari surat kabar (desa Karang Mulya mulai berlanggananan koran). Selain itu ada maksud khusus dari kami yaitu untuk menumbuhkan budaya membaca bagi warga desa Karang Mulya. Majalah dinding untuk desa dipasang di depan kantor kepala desa Karang Mulya.
e.              Pembuatan majalah dinding untuk madrasah Ibtidaiyah (MI)
Pembuatan majalah dinding untuk madrasah di maksudkan sebagai media penampung kreatifitas untuk anak-anak madrasah. Kreativitas anak-anak seperti kemampuan menulis, membuat kaligrafi dan lain-lain diberikan wadah khusus dalam bentuk majalah dinding sebagai bentuk apresiasi. Dari hal tersebut diharapkan segala bentuk kreativitas yang dimiliki oleh anak bisa terus berkembang sehingga nantinya bisa berguna bagi mereka dimasa depan. Majalah dinding untuk madrasah dipasang di depan madrasah.
f.              Pelatihan internet.
Pelatihan internet bertujuan sebagai fondasi terlaksananya program Cyber Extension di desa Karang Mulya. Peserta dari pelatihan internet adalah 6 orang pemuda dan pemudi desa Karang Mulya yang berpotensi dan peduli dengan kemajuan desa khususnya di bidang pertanian. Pelatihan internet dilaksanakan pada tanggal 9, 10, dan 11 Juli 2013. Adapun kegiatan yang kami lakukan adalah belajar cara membuat dan menggunakan email, membuat dan menggunakan media sosial seperti facebook dan twitter, membuat dan mengelola blog, dan cara menggunakan mailing list (milis). Berhubung pelatihan internet tidak memungkinkan untuk dilaksanakan di desa (terkendala sulitnya koneksi internet), maka pelatihan internet kami selenggarakan di sebuah warung internet (warnet) di kecamatan Bojong.
g.             Literasi media bagi ibu-ibu jam’iyah.
Literasi media diselenggarakan pada tanggal 8 Juli 2013 dengan peserta adalah ibu-ibu jam’iyah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan mengenai pentingnya kontrol orang tua atas konsumsi konten media bagi anak-anak. Seperti yang telah kita ketahui, tidak semua konten di media bersifat positif dan membangun. Ada juga konten media yang bersifat negatif dan merusak.
Kegiatan ini kami rasa penting untuk diselenggarakan karena di desa Karang Mulya anak-anak sering menonton dan menyukai tayangan sinetron yang di dalamnya sering kita jumpai nilai-nilai negatif seperti adegan antar tokoh yang saling memfitnah dan lain-lain. Oleh karenanya kami rasa diperlukan adanya penyuluhan mengenai pentingnya bimbingan dari orang tua untuk menyaring konten-konten negatif dari media yang di konsumsi oleh anak-anak. Dari 47 undangan yang disebarkan, ada 32 ibu yang hadir.
h.             Children’s day.
Acara children’s day diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 2103 dengan peserta adalah anak-anak tingkat TK dan Sekolah Dasar di desa Karang Mulya. Children’s day bertempat di depan kantor kepala desa Karang Mulya. Acara dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah untuk anak mulai dari kelas 4 SD keatas (sampai SMP) dan kategori kedua adalah mulai kelas 3 SD kebawah (hingga TK).
Acara Children’s day di lanjutkan dengan acara nonton bareng film ‘Lima Elang’. Terhitung ada 39 anak yang mengikuti kegiatan Children’s day  sedangkan yang lain yang tidak terdaftar sebagai peserta menjadi penonton.

Desa Suniarsih, Kab. Tegal - IPB Goes To Field 2013


Desa Suniarsih merupakan desa yang terletak di kaki Gunung Slamet, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kata Suniarsih berasal dari nama seorang wanita. Menurut penduduk sekitar, saat jaman kerajaan dahulu, ada seorang wanita yang melarikan diri dari keraton karena tidak ingin dijodohkan dengan laki-laki pilihan ayahnya. Wanita itu bernama Suniarsih yang sampai akhir hidupnya tinggal di desa ini, sehingga desa ini diberi nama Desa Suniarsih. Namun, penduduk sekitar lebih akrab memanggil desa ini dengan sebutan Desa Simpar. Asal-usul nama Simpar kurang jelas diketahui, tetapi menurut penduduk sekitar nama Simpar juga berasal dari seorang nama tokoh laki-laki yang lama tinggal di desa ini.
            Luas wilayah Desa Suniarsih adalah 344.725 ha dengan luas pemukiman penduduk 22.115 ha dan sisanya adalah lahan/kebun pertanian, baik milik pribadi maupun milik negara. Hasil pertanian di desa ini mencakup hasil berkebun dan beternak.  Jenis tanaman perkebunan berupa salak, jagung, singkong, pinus, teh, labu, dan pisang. Sedangkan jenis ternak yang ada berupa kambing, ayam, kelinci, dan burung. Semua hasil komoditas pertanian tersebut ada yang di jual di pasar desa Suniarsih serta ada juga untuk konsumsi pribadi.
Sembilan puluh persen masyarakat disini bekerja sebagai petani, baik sebagai buruh tani, pemilik tanah, maupun peternak. Alat pertanian yang biasa digunakan berupa cengkrong, arit, gergaji, cangkul, dan kampak. Cangkul digunakan sebagai alat pembajak sawah dan penggembur tanah. Di desa ini belum pernah menggunakan traktor sebagai alat pembajak sawah dikarenakan lahan di desa ini tidak rata dan mahalnya harga alat tersebut. Kerbau jarang digunakan sebagai alat pembajak sawah dikarenakan petani desa ini belum memiliki kerbau, sehingga jika ingin menggunakannya harus menyewa kerbau milik petani desa lain. Cengkrong digunakan sebagai alat pemotong tanaman liar dengan bentuk agak melengkung seperti bulan sabit. Arit juga digunakan sebagai pemotong rumput liar, namun bentuknya lurus memanjang tidak seperti cengkrong. Kampak digunakan sebagai pemotong batang tanaman yang keras dengan bentuk menajam di sisi sampingnya. Gergaji digunakan sebagai pemotong kayu untuk dijadikan pagar pemisah pertanian dengan bentuk tajam dan bergerigi pada sisi-sisinya.
 Satu minggu pertama di Desa Suniarsih, kegiatan yang kami lakukan adalah melakukan observasi. Observasi kami lakukan dengan mewawancarai warga yang berprofesi sebagai petani yang kemudian hasilnya kami masukan ke kuisioner Social Mapping yang diberikan oleh IPB. Petani yang kami wawancarai berjumlah sepuluh orang yang mencakup buruh tani dan petani pemilik lahan sendiri. Kondisi umum para petani di desa ini antara lain sudah berusia lanjut ( rata-rata ≥ 50 tahun), pendidikan yang kurang memadai, dan karakter petani yang hanya cenderung mengikuti bukan memulai. Ada beberapa permasalahan terkait pertanian di desa ini, yaitu kondisi tanah yang tidak rata sehingga kesulitan untuk menanam tanaman buah dan sayuran, hama tikus yang merajalela dan belum teratasi sehingga selama 3 tahun petani tidak memanen padi, kurangnya modal yang besar untuk memulai kegiatan pertanian, dan fasilitas atau alat pertanian yang terlalu tradisional.
Selain melakukan social mapping, kami juga melakukan perjalanan untuk melihat-lihat ladang milik semua warga desa. Ladang warga desa ini rata-rata ditanami tanaman cengkeh, jagung, dan salak, namun ada juga tanaman pinus di sekitar ladang tersebut. Selain ladang, ada juga sawah yang terletak cukup jauh dari desa ini. Sawah di desa ini rata-rata bukan milik pribadi warga, namun hanya merupakan garapan buruh tani yang ada di desa ini. Kami juga diajak melihat sumber mata air yang terdapat di desa ini. Sumber mata air ini merupakan sumber mata air satu-satunya dan juga merupakan tempat perbatasan antara kabupaten Tegal dengan kabupaten Pemalang.  Selain itu, kami juga diajak pergi ke pasar Desa Suniarsih yang terletak di depan desa ini. Pasar ini ternyata hanya beroperasi setiap hari Rabu dan Sabtu. Kami juga berkunjung ke balai desa untuk berkenalan dan berbincang-bincang dengan perangkat desa, namun ternyata kebanyakan perangkat desa pergi mengikuti suatu acara sehingga kami hanya dapat bertemu dengan dua orang perangkat desa. Kami berbincang-bincang dengan kedua perangkat desa ini terkait dengan Desa Suniarsih.
            Minggu kedua di desa ini, kegiatan yang kami lakukan adalah mengadakan pelatihan internet kepada pemuda dan petani desa ini. Pelatihan ini kami adakan pada tanggal 2 Juli 2013 pukul 19.00 WIB, dengan topik pelatihan pengenalan search engine dan cara menggunakannya. Kami mengenalkan mesin pencari “Google” dan beberapa website pertanian seperti epetani.deptan.go.id dan cybex.deptan.go.id. Kami mengajarkan cara menggunakan kedua website tersebut seperti melihat harga komoditas pertanian, mencari cara budidaya bahan pertanian, dan lain-lain. Pelatihan pertama dihadiri oleh tiga warga desa yang kebetulan semuanya berprofesi sebagai petani. Selanjutnya, pada tanggal 4 Juli 2013 pukul 19.30 WIB, kami mengadakan pelatihan kedua untuk program ini. Pelatihan kedua dihadiri oleh delapan orang warga, yang terdiri atas banyak pemuda dan sedikit petani. Pelatihan kedua ini topiknya adalah pelatihan pembuatan jejaring sosial seperti e-mail dan facebook serta cara penggunaannya baik di komputer maupun di handphone. Kendala yang kami hadapi saat pelatihan kedua ini adalah banyak warga yang belum mengerti e-mail dan fungsinya, selain itu ada beberapa warga yang tidak dapat mengetik dengan komputer.
            Pelatihan ketiga kami lakukan di pertengahan minggu ketiga di desa ini yaitu pada tanggal 9 Juli 2013 pukul 20.30 WIB. Pelatihan ketiga ini topiknya masih sama dengan pelatihan kedua yaitu pembuatan e-mail dan facebook. Hal ini dikarenakan warga desa yang datang merupakan warga desa yang belum pernah mengikuti pelatihan-pelatihan sebelumnya sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan topik dari pelatihan sebelumnya. Warga desa yang hadir di pelatihan ketiga ini berjumlah delapan orang. Kami mengajarkan mereka cara membuka e-mail, lalu cara membuat akun baru di e-mail, cara menulis pesan di e-mail dan mengirimkannya, cara membuka kotak masuk, dan cara bergabung di mailing list. Selain itu, kami juga mengajarkan langkah-langkah yang sama untuk pembuatan facebook, ditambah dengan kami menunjukan cara untuk bergabung pada sebuah grup di facebook, dalam hal ini terkait bergabung dengan grup cybex kecamatan Bojong. Sembari belajar dua hal di atas, kami juga mengajak para warga untuk membuat grup khusus di facebook khusus para petani di Desa Suniarsih dan memberikan nama grupnya. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kami dan para warga sepakat untuk memberi nama grupnya adalah “Kompas”,yaitu Komunitas Petani Simpar dan memilih dua orang warga sebagai admin dari grup tersebut.
            Dua hari berikutnya tanggal 11 Juli 2013 pukul 21.00 WIB, kami mengadakan pelatihan yang keempat. Pelatihan yang keempat ini dihadiri oleh enam orang warga. Hal yang kami latih di dalam pelatihan keempat ini adalah melanjutkan kembali pembuatan akun facebook yang belum selesai, cara bergabung grup dengan “Kompas” di facebook, cara memosting tulisan di facebook, cara mengupload foto di grup facebook maupun di akun sendiri dan cara memostingnya, cara chatting di facebook, dan cara memberi komentar di facebook.
            Dalam Program IPB Goes to Field di Kabupaten Tegal, Kecamatan Bojong tema yang di bawa adalah Cyber Extension pada Sentra Holtikultura. Penyampaian tujuan tema yang akan kami bawakan ke desa ini cukup sulit karena masyarakat desa ini kurang memiliki pengetahuan tentang komunikasi maya, ditambah lagi dengan fasilitas dunia maya yang belum ada, seperti Warung Internet. Awalnya kami mengajarkan mereka mengenal dunia maya dengan alat komunikasi handphone. Setelah itu kami mengenalkan mereka dengan perangkat komputer dan menyampaikan informasi tentang internet serta kegunaannya. Mulai dari mengetik menggunakan perangkat komputer, membuka website (google, epetani.deptan.go.id) untuk  kebutuhan yang diinginkan,  membuat email untuk memperlancar komunikasi dan menjadi salah satu hal  yang diperlukan dalam komunikasi dunia maya, membuat facebook untuk komunikasi dunia maya, membuat grup di facebook  yang ditujukan untuk bergabungnya petani desa  dengan tujuan lebih mudah dalam melakukan diskusi, dan membatu bersama - sama untuk mengunggah foto dan memberikan deskripsi yang baik agar dimengerti oleh pihak yang membacanya. Sampai akhirnya kami membentuk suatu komunitas petani yang cukup mampu menggunakan alat komunikasi dunia maya untuk keperluan petani sendiri. Komunitas ini bernama KOMPAS – Komunitas Petani Simpar.

Desa Tuwel, Kab. Tegal - IPB Goes To Field 2013


Kondisi Umum Wilayah
            Desa Tuwel merupakan salah satu desa yang berada di kaki Gunung Slamet tepatnya di kecamatan Bojong , Kabupaten Tegal yang terletak sektar 30 km sebelah selatan Kota Slawi dan jarak dari pusat pemerintahan kecamatan sekitar 4 km. Kondisi wilayah desa Tuwel berada di ketinggian 1000 m di atas permukaan laut dan memiliki seuhu antara 15oC sampai 25oC. Berdasarkan data dari kantor kepala desa Tuwel luas wilayah desa Tuwel yaitu 602.2973 km2 dan berdasarkan data dari gapoktan Budi Luhur luas wilayah desa Tuwel yaitu 557.900 km2 dengan rincian sebagai berikut :
a.       Tanah sawah
-          Irigasi teknis                                              272.930 km2
-          Irigasi sederhana                                        61.030 km2
b.      Tanah Kering
-          Pekarangan, bangunan, dan lain-lain          61.000 km2
-          Tegalan atau kebun                                   120.000 km2
c.       Lain-lain
-          Sungai, makam, jalan, dan lain-lain            42.670 km2
Berdasarkan hasil wawancara dengan sesepuh desa Tuwel yaitu Bapak H. Irham dan Kepala Desa Tuwel didapatkan informasi bahwa sejarah desa Tuwel dulunya merupakan suatu daerah kawasan hutan yang masih sangat sedikit didiami orang. Kemudian ada seorang wali yang bernama Mbah Rindhik yang konon berasal dari wilayah Purbalingga. Beliau datang ke desa Tuwel bersamaan dengan datangnya Ki Gede Sebayu (pendiri Kabupaten Tegal). Mbah Rindhik kemudian menancapkan batu besar dan memberi nama desa ini dengan nama desa Tuwel. Batu tersebut sekarang disebut sebagai Batu Sakti. Setelah itu, semakin banyak penduduk yang sampai sekarang diyakini masyarakat berasal dari satu keturunan yaitu dari Mbah Rindhik. Saat ini desa Tuwel dipimpin oleh seorang Kepala Desa sekaligus tokoh masyarakat dan ulama yang merupakan Kepala Desa ke tujuh. Beliau bernama Ustadz Agus Salim. Perekonomian desa Tuwel mulai berkembang pada tahun 1970 terutama ditunjang oleh sektor pertanian. Saat itu komoditi bawang putih menjadi komoditi andalan sehingga desa Tuwel menjadi salah satu sentra penghasil bawang putih terbesar di Indonesia.
 Batas-batas wilayah desa Tuwel yaitu : sebelah utara (desa Bojong), sebelah timur (desa Rembul dan desa Karang Mulya), sebelah barat (desa Guci, kecamatan Bumijawa), sebelah barat (kecamatan Bumijawa). Penduduk desa Tuwel berjumlah 8680 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 4328 jiwa dan perempuan berjumlah 4352 jiwa yang seluruhnya menganut agama Islam. Penduduk desa Tuwel 90% bermatapencaharian sebagai petani selebihnya menjadi pembuat batako, PNS serta pedagang.  Kondisi jaringan internet hanya dapat diakses melalui warnet yang hanya berjumlah duatempat dengan jam buka yang sangat terbatas disebabkan kondisi masyarakatnya yang agamis. Penduduk desa Tuwel  sudah dapat mengakses internet lewat telepon selular terutama kalangan muda, sedangkan kalangan tua susah untuk dapat mengakses internet lewat telepon selular. Petani di desa Tuwel sebagian tergabung dalam kelompok-kelompok tani dan sebagian lagi tidak berminat bergabung dengan kelompok tani dengan berbagai alasan terutama alasan birokrasi dan banyak petani yang tidak ingin repot. Para petani di desa Tuwel terdiri dari petani yang mempunyai lahan garapan sendiri, lahan sewaan serta buruh tani. Di desa Tuwel ini mempunyai 13 kelompok tani serta satu Kelompok Wanita Tani yang tergabung dalam satu Gapoktan Budi Luhur.
Berdasarkan data inventaris Gapoktan Budi Luhur desa Tuwel, diperoleh data sebagai berikut :
Tanggal berdiri : 1 Januarai 2008
Jumlah anggota : 350 orang
Luas areal : 400 Ha
Potensi produksi pangan :
-          Gabah pertahun 1600 ton
-          Jagung pertahun 1500 ton
Potensi Hortikultura :
-          Sayuran pertahun 11000 ton
-          Buah 100 ton
-          Biofarmaka 4000 ton
Kemampuan daya beli gapoktan :
-          Gabah 50 ton
-          Jagung 20 ton
-          Sayuran 500 ton
-          Biofarmaka 50 ton
-          Buah 10 ton
Pelaksanaaan Kegiatan
            Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah melakukan observasi desa, social mapping serta bersosialisasi dengan masyarakat desa Tuwel. Kemudian kami melakukan pendekatan serta menggali informasi lebih banyak tentang kondisi pertanian desa Tuwel serta sarana dan prasarana jaringan internet yang akan menunjang program IGTF. Kami juga berkunjung ke klinik pertanian desa Tuwel yang berada di depan SMA N 1 Bojong untuk mengetahui kegiatan rutin yang dilakukan oleh Klinik Pertanian.
            Pelaksanaan sosialisasi tentang internet sehat serta Cyber Extention dilakukan bersama desa-desa lain di kantor kecamatan  Bojong dengan mengundang perwakilan warga kalangan petani dari masing-masing desa. kegiatan ini dilanjutkan dengan kunjungan tim dosen IGTF ke lahan salah satu petani cabai dan daun bawang yang saat itu tanamannya sedang terserang penyakit layu. Kegiatan ini diliput oleh TV Jogja untuk melakukan publikasi dalam skala yang lebih besar.
            Tim IGTF desa Tuwel juga melakukan pelatihan pembuatan fan page kepada salah satu pengurus desa vokasi yang sekaligus merangkap sebagai sekretaris Kelompok Wanita Tani sebagai sarana pemasaran produk-produk olahan pangan. Produk-produk yang telah dihasilkan yaitu TORAKO (Tomat rasa Korma), KODATO (Korma dari Tomat), COKOLAS (Coklat dari Talas), keripik Tempe dan beberapa produk lain. Oleh-oleh khas desa Tuwel tersebut sangat potensial untuk dipasarkan dalam skala lebih luas melalui fanpage di intenet dengan nama fanpage OGGITU yang merupakan singkatan dari Oleh-oleh Guci Gaweane Ibu-ibu Tuwel (oleh-oleh khas guci buatan ibu-ibu Tuwel).
            Tim IGTF desa Tuwel juga memembantu program KRPL (Komonitas Rumah Pangan Lestari) dalam hal informasi tentang cara bertanam sayuran dalam pot. KRPL merupakan program dari Kementrian Pertanian dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga dengan menanam berbagai macam sayuran agar dapat memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit sehingga nantinya dapat terwujud pangan yang lestari bagi keluarga.
            Pertemuan dengan perwakilan anggota Gapoktan Budi Luhur desa Tuwel juga dilaksanakan guna mengenalkan dan membahas lebih lanjut tentang Cyber Extention di desa Tuwel dengan membuatkan akun facebook untuk Gapoktan yang nantinya akan dimasukan ke dalam komunitas Cyber Extention bentukan IPB.
            Kegiatan sosialisasi internet sehat untuk kalangan anak-anak dan remaja dilaksanakan bekerjasama dengan komunitas Taman Baca Masyarakat Tiga Surau dan mendapat sambutan yang baik dari para peserta. Dalam kegiatan tersebut juga disisipkan imbauan kepada generasi muda untuk dapat berperan bagi masyarakat petani di desa Tuwel dengan aktif mencari informasi-informasi lewat internet yang berkaitan dengan pertanian.
            Gabungan Tim IGTF dari masing-masing desa juga melakukan pertemuan untuk membahas progres masing-masing desa setiap minggunya, pertemuan dilakukan setiap hari Sabtu di desa Bojong. Pertemuan tersebut juga bertujuan untuk saling sharing informasi antar tim IGTF masing-masing desa serta informasi-informasi lain yang berkaitan dengan program Cyber Extention.
            Tim IGTF desa Tuwel juga mengikuti Temu Lapang petani bawang putih se-Kabupaten Tegal yang dihadiri oleh kepala Dinas Tanbunhut yaitu Ir. Khofifah. Dalam pertemuan tersebut membahas usaha untuk merintis kembali berjayanya komoditas bawang putih lokal di kabupaten Tegal dengan sentra di kecamatan Bojong dan Bumijawa. Program dari pemerintah yang telah diberikan pada tahun 2013 ini yaitu bantuan benih bawang putih seluas 100 Ha kepada 5 kelompok tani di dua kecamatan masing masing yaitu :
-          Kecamatan Bojong (60 Ha) :
·         Desa Tuwel (kelompok tani Berkah Tani dan Bina Usaha)
·         Desa Rembul (kelompok tani Prima Tani)
-          Kecamatan Bumijawa (40 Ha) :
·         Desa Bumijawa (kelompok tani Tani Terus)
·         Desa Cintamanik (kelompok tani Ampel)
Tim IGTF desa Tuwel berdasarkan instruksi dari Bappeda Kabupaten Tegal telah membentuk komunitas Cyber Extention untuk bergabung dengan Cyber Extention Kecamatan Bojong. Komunitas Cyber Extention desa Tuwel dengan susunan pengurus ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota.
 
Rekapitulasi Survei Social Mapping
Berdasarkan wawancara hasil social mapping di desa Tuwel didapatkan hasil bahwa dari 11 orang petani, petani yang menyukai profesi sebagai petani berjumlah 8 orang, petani yang merasa biasa saja berjumlah 2 orang, petani yang kurang suka berprofesi sebagai petani berjumlah 1 orang. Petani yang menganggap profesi petani berat berjumlah  4 orang, petani yang merasa pekerjaan petani sedang-sedang saja berjumlah 4 orang, petani yang merasa pekerjaan petani  ringan berjumlah 3 orang. Petani yang merasa bergengsi menjadi seorang petani berjumlah 4 orang, petani yang merasa biasa saja berjumlah 6 orang.
Petani yang menginginkan semua anaknya bekerja diluar bidang pertanian berjumlah 7 orang. Petani yang menginginkan anaknya bekerja sebagai petani dan diluar pertanian berjumlah 4 orang. Petani yang menginginkan semua anaknya bekerja menjadi petani berjumlah 1 orang. Petani yang menyerahkan sepenuhnya pilihan pekerjaan anak-anaknya berjumlah 8 orang. Petani yang tidak ingin anak-anaknya menjadi petani berjumlah 2 orang.
Penduduk desa Tuwel yang berprefesi sebagai petani sebanyak 75%. Petani yang menjadikan kegiatan bertani sebagai pekerjaan utama berjumlah 5 orang. Petani yang berprofesi sebagia petani serta mempunyai usaha lain berjumlah  6 orang. Petani yang merasa pekerjaan bertani dapat mencukupi kebutuhan hidupnya berjumlah 9 orang. Petani yang pekerjaan bertani telah lebih dari cukup memenuhi kebutuhan hidupnya berjumlah 1 orang. Petani yang merasa pekerjaan petani  kurang memenuhi kebutuhan hidupnya berjumlah 1 orang.
Petani yang memiliki proporsi penghasilan dari bertani sebesar 50% sebanyak 2 orang, proporsi sebesar 75% sebanyak 1 orang, proporsi 60% sebanyak 2 orang, proporsi sebesar 45% sebanyak 1 orang, proporsi sebesar 100% sebanyak 5 orang. Petani yang memilkiki sumber penghasilan diluar bertani dari kiriman  anak-anak mereka sebanyak 3 orang, dari usaha lain sebanyak 7 orang, dari usaha lain sekaligus kiriman uang dari anak-anak mereka sebanyak 1 orang.
            Menurut pendapat 11 petani yang diwawancarai menganggap kondisi ekonomi masyarakat petani desa Tuwel 10 tahun yang lalu berada pada level 8 (jauh lebih tinggi dari level saat ini yaitu 5) disebabkan  komoditi utama bawang putih di desa Tuwel sangat maju serta perhatian pemerintah terhadap produk pertanian dalam negeri masih sangat tinggi. Untuk saat ini, kondisi ekonomi masyarakat petani di desa Tuwel sedang mengalami kelesuan namun dalam upaya bangkit kembali. Diperkirakan untuk 5 tahun ke depan akan sama bahkan lebih baik lagi.
Jalur tata niaga hasil-hasil pertanian di desa Tuwel yaitu hasil panen petani  dibeli oleh pengepul dengan sistem tebas di lahan. Penentuan harga ditentukan oleh pengepul dan petani sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Ada juga yang langsung menjual ke pasar namun dalam jumlah yang lebih kecil. Masalah yang dihadapi para petani yaitu sulitnya pemasaran hasil panen karena terkadang harga komoditi jatuh di pasaran, begitu juga informasi harga di kalangan petani yang tidak stabil disebabkan kurangnya harga pasar yang memihak kepada petani, serta teknologi dan mesin-mesin pertanian yang ada di pasaran tidak cocok dengan topografi daerah pertaniannya.
Pekerjaan bertani di lahan yang hanya dikerjakan oleh kepala keluarga (seorang ayah) saja berjumlah 3 orang, pekerjaan bertani yang dikerjakan oleh kepala keluarga dan dibantu oleh ibu berjumlah 5 orang, opekerjaan bertani yang dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak yang sudah tidak bersekolah berjumlah 3 orang.
Kesibukan petani secara umum di desa Tuwel setiap bulannya selam setahun tidak menentu. Hal ini disebabkan pola tanam komoditi sayuran tidak pasti sehingga para petani yang menanam sayuran bulan-bulan sibuknya aktifitas bertani di ladang tidak dapat diprediksi, kecuali petani yang menanam padi sudah ditentukan oleh musim tanam setelah musim hujan. Kegiatan para petani desa Tuwel diluar kesibukan bertani yaitu beternak, mencari penghasilan di objek wisata Pemandian Air Panas Guci, serta jalan-jalan naik gunung.
Menurut para petani, agar mereka bisa bertani, 4 orang berpendapat  tidak perlu bersekolah, 4 orang berpendapat perlu sekolah khusus pertanian, 3 orang berpendapat cukup sekolah umum saja. Petani desa Tuwel mendapatkan pedoman cara bertani dari kebiasaan turun temurun sebanyak 5 orang, melakukan penelitian dan coba-coba sendiri sebanyak 5 orang, serta dari penyuluhan sebanyak 1 orang. Dukungan yang paling dibutuhkan oleh para petani desa Tuwel adalah pengetahuan tentang hama penyakit, budidaya tanaman, benih yang bersertifikat, ketersediaan alat dan mesin pertanian yang mendukung daerah dengan topografi pegunungan, serta informasi penjualan hasil dan sarana produksi pertanian. Dukungan yang berkaitan dengan kelompok tani dan gapoktan di desa Tuwel sudah maju, namun terdapat sebagian petani yang tidak bersedia masuk dalam kelompok tani/gapoktan disebabkan oleh mekanisme dan birokrasi yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Tanggapan para petani desa Tuwel mengenai masa depan pertanian di desa Tuwel, yaitu : 3 orang berpendapat pertanian desa Tuwel akan tetap saja dengan berbagai alasan karena produksi komoditi sayuran di daerah ini tetap walau harga komoditi tidak stabil dan dalam hal hama penyakit semakin banyak namun obat-obatannya kurang dan masih bergantung pada sistem budidaya pertanian tradisional, 7 orang berpendapat masa depan pertanian desa Tuwel akan bertambah maju dengan alasan tidak adanya lahan pertanian yang terbengkalai karena sudah banyak lahan pertanian yang disewakan, sudah banyak yang bersedia menjadi petani, serta dengan adanya penemuan varietas uanggul dari perguruan tinggi pertanian penanaman komoditi pertanian dapat dilakukan 3 kali dalam setahun, dengan adanya penemuan alat teknologi yang maju dapat mempermudah dan meringankan pekerjaan petani. Kunjungan presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu negara ke kelompok tani yang ada di desa Tuwel dan program pemerintah yang memberikan 100 Ha benih bawang putih gratis juga berpengaruh besar dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan desa Tuwel yang menjadi sentra komoditi bawang putih di wilayah Tegal.
Harapan para petani desa Tuwel yaitu :
-          Komoditi bawang putih dapat berjaya berkembali dan dapat menjadi andalan desa Tuwel,
-          Penyuluhan lebih digiatkan dengan harapan penyuluh dapat memberi informasi unsur hara yang terkandung di dalam tanah, kondisi pH tanah sehingga aplikasi pemberian pupuk dapat lebih efisien,
-          Petani kubis mengharapkan ada bantuan obat untuk membasmi hama ulat dan pengetahuan tentang hama penyakit dari pemerintah,
-          Adanya pengawasan dari dinas pertanian agar dapat mengurangi pengoplosan benih yang tidak bermutu sehingga petani tidak rugi,
-          Adanya bantuan dari perguruan tinggi berupa alat pertanian yang dapat dijangkau harganya oleh petani serta sesuai untuk lahan dengan topografi pegunungan untuk mempermudah pekerjaan petani mengolah lahan.
-          Adanya informasi tentang pertanian yang dapat diakses secara mudah serta adanya standarisasi minimal harga komoditas pertanian agar petani mendapatkan kepastian pendapatan serta dapat memperlancar distribusi hasil pertanian.